FF
“Maksud ayah?” aku sedikit kebingungan
“baru saja kamu memakan bangakai pak darmono. Tentu saja ayah takut dengan kematian jika kau tidak segera berinsaf”.
Nasehat ayah
Aku masih duduk di sebatang kayu dibawah pohon kamboja,
menunggu ayahku selesai membersihkan sekrumpulan rumput yang mengerumuni subuah
makam. Ku kibaskaan tanganku karena terik yang panas. Namun tak berefek apapun.
Kringat masih mgalir satu-dua tetes dari keningku. kulihat bunga-bunga kamboja diatasku bermekaran putih terlihat
suci.
“ayo pulang” ajak ayahku sambil mengambil sepeda yang berada
disampingku.
“pak darmono” jawab ayah singkat
“matan DPR yang korupsi itu?” tanyaku menyelidik
Ayah tak menjawab, namun segera meletakkan sepeda dan duduk
disampingku.
“orang seperti dia pasti sekrang sedang di siksa sama
malaikat. Memang sudah sepantasnya orang seperti dia disiksa” aku angkat bicara
lagi
Ayah masih terdiam, sambil memandangi makam itu.
“mungikn sekarang tulangnya
sedang diremukan oleh malaikat. lalu dikembalikan lagi, lalu dihancurkan lagi.
Enak kan balasan dari korupsimu? Hah.. mengerikan sekali kematian pak darmono.
Aku jadi takut dengan kematian, ayah takut tidak dengan kematian?” Aku menoleh
ke ayah
“Jika ayah menganggap
bahwa kampung akhirat itu khusus untukmu disisi Allah, bukan untuk orang lain,
maka inginilah kematian ku, tapi
tidakkah kau tau yang barusan kau lakukan?
“baru saja kamu memakan bangakai pak darmono. Tentu saja ayah takut dengan kematian jika kau tidak segera berinsaf”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar