Jumat, 18 Mei 2012

flash fiction

FF

Nasehat ayah
Aku masih duduk di sebatang kayu dibawah pohon kamboja, menunggu ayahku selesai membersihkan sekrumpulan rumput yang mengerumuni subuah makam. Ku kibaskaan tanganku karena terik yang panas. Namun tak berefek apapun. Kringat masih mgalir satu-dua tetes dari keningku. kulihat bunga-bunga  kamboja diatasku bermekaran putih terlihat suci. 
 
“ayo pulang” ajak ayahku sambil mengambil sepeda yang berada disampingku.

“makam siapa itu yah?” tanyaku pada ayah
“pak darmono” jawab ayah singkat

“matan DPR yang korupsi itu?” tanyaku menyelidik

Ayah tak menjawab, namun segera meletakkan sepeda dan duduk disampingku.

“orang seperti dia pasti sekrang sedang di siksa sama malaikat. Memang sudah sepantasnya orang seperti dia disiksa” aku angkat bicara lagi

Ayah masih terdiam, sambil memandangi makam itu.

“mungikn sekarang  tulangnya sedang diremukan oleh malaikat. lalu dikembalikan lagi, lalu dihancurkan lagi. Enak kan balasan dari korupsimu? Hah.. mengerikan sekali kematian pak darmono. Aku jadi takut dengan kematian, ayah takut tidak dengan kematian?” Aku menoleh ke ayah

 “Jika ayah menganggap bahwa kampung akhirat itu khusus untukmu disisi Allah, bukan untuk orang lain, maka inginilah kematian ku,  tapi tidakkah kau tau yang barusan kau lakukan?

“Maksud ayah?” aku sedikit kebingungan

“baru saja kamu memakan bangakai pak darmono. Tentu saja ayah takut dengan kematian jika kau tidak segera berinsaf”.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar