Rabu, 06 Juni 2012

Wanita Tiang Negara



Jika kita menengok sejarah pada zaman jahiliyah, kita akan bisa membandingkan kedudukan wanita sebelum dan sesudah islam. Pada masa jahiliyah, kaum wanita dianggap lemah, harkat dan martabatnya rendah, bahkan jika ada bayi wanita yang lahir akan langsung dibunuh. Namun, kedatangan Islam dengan segala kesempurnaan dan keadilan hukum-hukumnya telah meninggikan derajat dan martabat wanita, bahkan lebih tinggi tiga tingkat dibanding kaum adam. Islam pula yang menjadikan wanita sebagai sosok yang memiliki peranan besar dalam pembangunan peradaban umat, dan perjalanan sejarah suatu bangsa. 
didalam islam, wanita diibaratkan sebagai tiang Negara. Bukan itu saja, beberapa istilah yang ada sekarang ini, seperti ibu kota, ibu pertiwi, ibu jari, bahasa ibu dan lain-lain, menegaskan dan memperkuat jati diri dan kemuliaan seorang wanita. wanita adalah pengemban amanah pembangun generasi umat. apabila kaum perempuan dalam suatu negara berakhlak baik, maka akan baik keadaan negaranya. Dan apabila perempuan dalam suatu negara berakhlak buruk, maka akan buruk pula negara tersebut. Atau dengan kata lain, meminjam istilah Napoleon Bonaparte, kemajuan perempuan adalah ukuran kemajuan negeri.
Untuk menggambarkan istilah diatas, kita bisa mengingat cerita tentang Cleopatra, yang menghianati suaminya, Julius cesar. Karena akhlaknya yang buruk itu, maka hancurlah negri roma. Lalu, cerita tentang riwayat berdirinya kerajaan Singasari, karena pesona Ken Dedes membuat Ken Arok gelap mata merebut kekuasaan sehingga mengakhiri hidup kepala daerah Tumapel (cikal bakal Singasari) Tunggul Ametung. Itulah gambaran cerita kemajuan negri jika wanita berakhlak buruk.
Namun kita juga harus mengingat tentang ibunda kita siti khotijah, wanita hebat yang rela menyerahkan hartanya kepada rasul demi tegaknya islam. Kemudian, Inggit Garnasih, istri Presiden Sukarno. Keterlibatan Bu Inggit dalam politik dan perjuangan kemerdekaan memang tidak secara langsung. Tapi kecerdas Bu Inggit menyelundupkan buku – buku, Koran, dan bahan bacaan untuk Bung Karno selama Bung Karno dipenjara itulah yang menjadi bahan kerangka pidato pembelaan Bung Karno pada sidangnya di tahun 1930. Lalu, gambaran tentang ustazah yoyoh yusro, bagaimana wanita ini membina anak-anaknya sehingga bisa menjadi generasi quranik yang luar biasa.  Banar-benar takk bisa dimungkiri bahwa perempuan memiliki pengaruh yang signifikan dalam kehidupan, baik menyangkut kekuasaan, sistem dalam kehidupan dan generasi umat.
Oleh karena peranannya yang begitu penting, maka Islam sebagai dien yang sempurna telah menetapkan rambu-rambu baik berupa hak dan kewajiban bagi wanita terkait dengan posisinya sebagai anak, sebagai isteri dan sebagai ibu .
Sabda Rasulullah saw: “Seorang wanita adalah pengurus rumah tangga suaminya dan anak-anaknya, dan ia akan dimintai pertanggung jawaban atas kepengurusannya” (HR.Muslim)
Islam juga mengatur peran publik wanita. Seorang wanita adalah bagian dari masyarakat dan bertanggungjawab bersama kaum laki-laki dalam mewujudkan masyarakat yang baik, yang mendapatkan ridho dari Allah Swt yaitu masyarakat yang menerapkan syariat Islam yang akan menebarkan rahmat bagi seluruh alam. Seorang muslimah berkewajiban untuk berdakwah, menyeru kepada Islam, mengingatkan kepada kebajikan. Dia juga tidak boleh menjadi sosok yang individualis dan egois, hanya mementingkan diri sendiri, minim empati dan tidak mau melihat persoalan orang lain.
Rasanya jelas sudah bahwa peranan dan kedudukan perempuan begitu penting dalam kehidupan manusia, sehingga muncul istilah, ’’Wanita adalah tiang negara’’ dan ’’Surga itu di bawah telapak kaki ibu’’. Lantas perempuan seperti apa yang tinggi derajatnya? Menurut Rasulullah, ’’Dunia ini adalah harta, dan sebaik-baik harta benda adalah wanita yang saleh.’’ (Hadis riwayat Muslim).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar