Rabu, 04 April 2012

The first writing suported by FLP

Jangan Jadi Mafia Ujian Nasional

TAK lama lagi, siswa SMA dan yang sederajat di seantero negeri ini akan mengadakan hajatan besar. Jika tidak ada halangan, 16 April mendatang ujian nasional (UN) akan diselenggarakan serentak.
Belakangan ini, bagi sebagian siswa UN menjadi momok menakutkan. Seolah-olah keberhasilan selama tiga tahun mengenyam dunia pendidikan hanya ditentukan oleh bilangan hari. Tak hanya siswa yang menganggap UN sebagai momok menakutkan, penyelenggara pendidikan juga merasakan hal yang sama, terlebih lagi orang tua murid.
Tentunya menjadi beban yang amat berat ketika orang tua mengetahui anaknya tidak lulus UN. Begitu juga dengan pihak penyelenggara pendidikan. Mereka tidak ingin dicap sebagai sekolah yang gagal menyelenggarakan dan mendidik siswa. Namun, beban yang amat berat dirasakan siswa yang tidak lulus. Seolah-olah tiga tahun ia belajar sia-sia belaka. Jadi, tak heran jika berbagai cara akan dilakukan agar siswa lulus UN.
Untuk tahun ini, pemerintah akan memberlakukan soal UN dengan lima paket soal yang berbeda. Ini juga dilakukan untuk mempersempit kecurangan yang terjadi saat UN. Tapi, mungkinkah UN tahun ini akan berlangsung sukses tanpa kebocoran soal seperti yang terjadi pada tahun-tahun yang lalu?
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan menjamin keamanan dan kerahasian UN 2012 ini. Namun, kami tetap tidak bisa menjamin. Buktinya tahun lalu, Mendiknas juga mengatakan hal yang serupa. Tapi, pada kenyataannya tetap saja ada oknum sekolah yang berurusan dengan aparat hukum akibat kecurangan UN.
Setidaknya untuk 2009 saja ada empat daerah yang diketahui melakukan kecurangan dalam UN, yakni Deliserdang (Sumatera Utara), Makassar (Sulawesi Selatan), Solo (Jawa Tengah), dan Batam (Kepulauan Riau).
Mereka yang terlibat adalah 8 kepala sekolah, 26 guru, dan 13 petugas tata usaha. Pada 2011 untuk UN SMA sudah mulai membaik, tak banyak isu yang mewarnai UN. Namun, masih juga ditemukan oknum yang berbuat kecurangan di jenjang SD, yaitu di Surabaya.
Akibatnyam, wali kota Surabaya dengan tegas mencopot kepala sekolah dan dua guru kelas dari sekolah yang bersangkutan. Itu hanya sebagian fakta yang terungkap. Belum lagi kecurangan-kecurangan lain yang tidak sampai tercium publik. Semua itu mereka lakukan demi kelulusan anak didiknya.
Secara sadar mereka tahu bahwa mencari bocoran soal dan membagikan kunci jawaban kepada muridnya adalah sebuah kejahatan. Tapi, mereka malu kalau anak didiknya tidak lulus 100% dan mereka juga takut kalau sekolahnya tidak lagi diminati karena tidak berhasil mendidik siswa (meluluskan). Ini adalah dilema nyata dalam dunia pendidikan di negeri ini. Namun, pantaskah seorang guru, petugas tata usaha, bahkan kepala sekolah menjadi mafia UN?
Seharusnya seorang guru harus merasa lebih takut dan malu jika usahanya bertahun-tahun itu sia-sia. Mereka mengajar siswa selama tiga tahun hanya akan mereka gagalkan sendiri dengan membocorkan kunci jawaban dan membiarkan siswa mencontek secara massal.
Ini adalah sebuah lingkaran kebohongan yang mewabah dan menelan begitu banyak korban: mengajarkan ketidakjujuran kepada siswa, termasuk membodohi bangsa. Dan yang lebih buruk lagi adalah membohongi diri sendiri.
Jika seorang guru membiarkan anak didiknya mencontek atau berpura-pura tidak tahu tentang contek-mencontek massal, itu berarti guru sudah menjadi mafia UN meski dengan dalih apa pun. Masih banyak bentuk ikhtiar yang lebih mulia dan dapat dilakukan daripada sekadar mencari bocoran soal dan melegalkan siswa mencontek.

lampost: suara pembaca edisi 4 april 2012
Nuci Vera
Anggota FLP Metro

1 komentar:

  1. mb ci'...folback blog q ye...:)
    http://oyaonsketch.blogspot.com

    BalasHapus